Wednesday, April 20, 2022

Karena Ini Liverpool, Mereka Punya Kesempatan Wujudkan Mimpi Quadruple


 berita bola - The Reds duduk di puncak klasemen Liga Primer Inggris setelah mengentaskan Manchester United 4-0, mungkinkah empat gol jadi pertanda empat trofi?

Dengan pipi mengembang dan anggukan kepala, Jurgen Klopp merangkum semuanya dengan sempurna.

"Senang?" ia ditanya sambil berjalan ke bus tim Liverpool, saat bersiap-siap dalam perjalanan pulang penuh kepuasan ke Merseyside.

Jawaban Klopp sudah cukup. Dia memang bahagia, tapi tak cuma itu saja.

Mungkin terkuras, setelah hari yang amat menyedot energi? Pasti emosional, ya, setelah menyaksikan perayaan di akhir laga?

Dan pastinya fokus, menghadapi tantangan di hadapan mereka.

Kemenangan semi-final Piala FA Liverpool atas Manchester City memang besar, tetapi kejayaan yang jauh lebih besar sudah menanti mereka, dan Klopp serta para pemainnya tahu betul soal itu.

Mereka menikmati perjalanannya, tetapi kenyataannya adalah mereka terpaut 10 laga dari keabadian, prospek menjadi klub pertama yang meraih quadruple terus membayangi seiring langkah mereka mengentaskan rintangan satu per satu.

"Ini sesuatu yang akan diimpikan semua orang," kata Virgil van Dijk, bicara kepada kerumunan reporter di Wembley. "Tetapi belum pernah ada yang melakukannya, dan ada alasannya: karena nyaris mustahil."

Tak perlu IQ jenius untuk menyadari kata kuncinya, kan? Nyaris mustahil.

Nyaris.

Mengingatkan kepada salah satu team talk terpopuler yang pernah Klopp berikan, di Hotel Hope Street beberapa jam sebelum leg kedua semi-final Liga Champions Eropa versus Barcelona 2019 lalu.

Liverpool rontok 3-0 di leg pertama di Catalunya, tetapi ketika mereka berkumpul untuk rapat pra-pertandingan, Klopp menyajikan salah satu penampilan terbaiknya.

"Seluruh dunia merasa ini mustahil," katanya kepada para pemain. "Dan jujur saja, mungkin memang mustahil."

“But because it’s you? Because it’s you, we have a chance.”

"Tetapi karena ini kalian? Karena ini kalian, kita punya kesempatan."

Pidato itu jelas berlaku juga untuk saat ini, tiga tahun kemudian. Misi Liverpool memenangkan semua empat kompetisi besar - Liga Primer Inggris, Piala FA, Piala Liga, dan Liga Champions - tampak mustahil, dan mungkin memang mustahil. Tetapi dengan tim ini? Dengan tim ini, mereka punya kesempatan.

Hanya waktu yang akan membuktikan seberapa besar kemenangan Liverpool Sabtu (17/4) kemarin. Konsensus umumnya adalah bahwa pasukan Pep Guardiola-lah yang lebih terlihat meyakinkan di dua perjumpaan di liga musim ini, tetapi justru armada Klopp yang merajai Wembley, menyengat Man City dengan racikan maut: rasa lapar, intensitas, dan kualitas, terutama di 45 menit pertama.

"Salah satu paruh waktu terbaik yang pernah kami mainkan," sebut Klopp, Trent Alexander-Arnold bilang Liverpool "outstanding", menegaskan bahwa mereka sudah belajar dari hasil imbang 2-2 10 April lalu di Etihad, mengeksekusi strategi mereka dengan melakukan pressing tinggi dan keras sejak menit pertama.

"Kayaknya saya belum pernah melihat sebuah tim melumat City seperti yang baru saja kami lakukan," kata bek sayap Inggris tersebut.

Memang ada alasan di balik lesunya City. Tak ada Kevin De Bruyne, yang hanya duduk di bangku cadangan tak terpakai, dan tak ada Kyle Walker, yang berjalan pincang di pinggir lapangan, tanda cederanya belum sembuh. Aymeric Laporte, Ruben Dias, dan Rodri juga tak dibawa, begitu pula dengan Ederson, sementara kiper penggantinya yakni Zack Steffen melakukan blunder fatal di panggung besar.

Dan Man City sendiri juga masih punya pertarungan lain. Puncak Liga Primer Inggris memang direnggut dari tangan mereka setelah Liverpool membantai Manchester United 4-0, Rabu (20/4) dini hari WIB, tetapi City bermain satu laga lebih sedikit dan harus memenangkan tujuh laga terakhir mereka untuk menjamin titel keempat dalam lima tahun. Bukan tak mungkin pula merekalah yang akan jadi rintangan terbesar Liverpool nanti, jika The Reds sukses melangkahi Villarreal dan melaju ke final Liga Champions. Pertarungan Merseyside-Manchester masih jauh dari kata selesai.

Namun pemain Liverpool siap menghadapi tantangan yang ada. "Ini adalah waktu terbaik tahun ini," kata Alexander-Arnold. Van Dijk sepakat, meminta agar fans tak perlu cemas dan menikmati momennya saja.

"Apa yang sedang terjadi ini cukup spesial," kata pria Belanda itu. "Dan semoga kita semua akan mengenang masa-masa ini 10 atau 20 tahun ke depan."

Bahkan Mohamed Salah, yang akhirnya buka puasa gol di Anfield dengan menjebol gawang David De Gea, tersenyum lebar meski tidak menorehkan namanya di papan skor Wembley. "Saya kangen banget sama kalian!" katanya sambil bercanda kepada reporter, meski dia menolak permintaan wawancara dengan sopan. Ya bisa dimengerti sih, mengingat kita semua sudah tahu apa yang akan ditanyakan kepadanya.

Van Dijk lain cerita, dia sampai setengah jam berbicara di depan media. Dia bahkan menyempatkan waktu mengejek Andy Robertson, yang kata Van Dijk kulitnya terbakar matahari saat bertanding. "Dia orang Skotlandia, sih!" selorohnya.

Beberapa pemain Man City, termasuk kapten Fernandinho dan striker Gabriel Jesus, juga menghadapi media, tetapi lainnya menghindar dengan segera. John Stones keluar dengan tudung jaket dinaikkan, Phil Foden bersungut-sungut, sementara pandangan mata Steffen tertuju ke bumi. Perjalanan pulang mereka pasti pahit sekali.

Setidaknya mereka punya kans untuk bangkit dengan segera. Setelah Liverpool menghajar Manchester United di Anfield Rabu dini hari tadi, Man City akan menjamu Brighton 24 jam kemudian. Fatal kalau terpeleset.

Liverpool bakal berharap kemenangan mereka akan membuat Guardiola overthinking, dan menggeregoti kepercayaan diri pasukannya.

Yang mungkin terjadi, beberapa anggota skuad City bisa 'terpenjara' setelah asa treble mereka musnah begitu saja. Saya akan kaget kalau Steffen, Fernandinho, Nathan Ake, atau Oleksandr Zinchenko akan sering tampil di sisa musim.

Di sisi lain, City juga akan berharap Liverpool terbebani sejarah dan kepadatan jadwal. Meski The Reds begitu lua biasa musim ini, masih ada peluang untuk gagal dengan spektakuler.

Klopp dan anak asuhnya memang piawai mengatasi tekanan, tetapi mereka belum pernah merasakan situasi seperti ini sebelumnya. Bahkan, belum ada tim yang pernah merasakannya.

Dan itulah yang akan membuat pekan-pekan ke depan begitu layak dinantikan. Sejarah di depan mata mesin merah Jurgen Klopp.

Jadi, berapa trofi yang akan masuk ke lemari Anfield akhir Mei nanti? Satu, dua, tiga, atau empat?

No comments:

Post a Comment