Monday, July 12, 2021

Mengalir Darah Brasil Dalam Skuad Juara Italia Di Euro 2020


 berita bola - Jorginho dan Emerson Palmieri adalah contoh nyata ikatan kuat antara Brasil dan Italia yang diwariskan oleh leluhur.

Walaupun eksekusi Jorginho gagal dalam drama adu penalti di final Euro 2020 antara Italia dan Inggris, sebagian pujian atas gelar juara yang diraih Gli Azzurri layak tercurah ke Brasil. Mengapa?

Negara Amerika Latin ini memasok dua figur krusial ke dalam tubuh tim ini.

Adalah Jorginho, pemain kunci dari keberhasilan Italia. Gelandang Chelsea ini menjadi pelindung sempurna bagi barisan tiga bek Italia dan memainkan peran vital dalam melakukan passing-passing pertama ke area depan.

Lahir di negara bagian Brasil, Santa Catarina, dia menghabiskan kehidupan sepakbolanya di sana hingga usia 15 tahun. Sepakbola pula yang membawanya ke sisi lain dari Atlantik, bahkan memberinya kewarganegaraan baru.

Emerson Palmieri menyusul, dia hijrah di usianya yang masih remaja.

Dia mencuat dari jenjang tim muda di kampung kelahirannya, Santos, sebuah klub yang di dalamnya pernah diperkuat sosok-sosok legendaris seperti Pele hingga Robinho. Di masa kini, kita bisa melihat sosok-sosok seperti Neymar dan Rodrygo.

Namun, pengalaman yang dimiliki dua pemain ini justru dimaksimalkan oleh negara lain, Italia, ketimbang Brasil.

Cerita lainnya ada pada diri Rafael Toloi, yang tampil dari bangku cadangan Italia beberapa kali selama Euro 2020. Dari tiga kontingen Brasil di tubuh Italia ini, Toloi yang paling lama menghabiskan waktu di kampung halaman.

Pada 2009, dia merupakan bagian dari tim Brasil yang mencapai final Piala Dunia U-20, dan digadang-gadang bakal menjadi suksesor jangka panjang Lucio di tim senior.

Namun, dia malah memilih hengkang ke Italia ketika dia mendekati usia pertengahan 20-an, dan dia akhirnya memutuskan untuk mewakili tanah kelahiran nenek moyangnya.

Buyut Toloi merupakan bagian dari migrasi massal. Banyak orang-orang berdarah Italia bermigrasi ke Amerika Serikta pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Tapi sebagian mereka juga pergi lebih jauh ke selatan.

Kota Sao Paulo memiliki wajah-wajah Italia nan berbakat, sebagaimana di beberapa daerah di selatan Brasil.

Keberadaan itu juga terasa di Montevideo, ibu kota Uruguay, demikian juga di Argentina. Buenos Aires adalah kota yang bisa dibilang "Italia banget", di mana orang-orang lokal banyak berbicara bahasa Spanyol dengan intonasi Italia yang kuat.

Ketika sepakbola mulai lepas landas di bagian Amerika Selatan 100 tahun lalu, anak-anak imigran Italia berada di antara beberapa pemain yang paling menonjol.

Sementara itu, di Italia, permainan sepakbola telah berubah ke arah profesional dan menghasilkan gaji. Ini merupakan insentif bagi para pemain Amerika Selatan untuk dipancing kembali ke tanah kelahiran nenek moyang mereka. Seorang diktator Benito Mussolini menyikapi hal ini dengan sangat serius, dan para pemain ini pun dilacak untuk dimasukkan ke dalam tim nasional Italia.

Orang Brasil pertama yang menjadi bagian dari skuad juara Piala Dunia bukanlah Pele atau rekan dia mana pun yang memenangkan trofi pertama timnas pada 1958. Mengilas balik edisi 1934, ada orang Brasil di tim Italia, yakni Filo Guarisi, yang bermain untuk Lazio.

Yang perlu diingat baik-baik, Piala Dunia pertama yang dimenangkan oleh tim dari Benua Eropa dilakukan oleh orang berdarah Amerika Selatan, dan apa yang benar-benar terjadi pada 1934 terulang di Euro 2021.

No comments:

Post a Comment