Friday, December 31, 2021

Maafin Manchester City Ya, Bikin Liga Primer Inggris Jadi Liga Petani


 berita bola - The Cityzens terus konsisten musim ini dan berpeluang unggul jauh dalam perburuan gelar jika Chelsea dan Liverpool kembali memble.

Semua orang tentu menginginkan adanya persaingan ketat di antara tiga tim dalam perburuan gelar Liga Primer Inggris musim ini, tapi maafkan Manchester City jika hal itu tidak terwujud.

Fans di seluruh dunia jelas sangat senang dengan prospek perjuangan pasukan Pep Guardiola mempertahankan mahkota Inggris mereka musim ini mendapat tantangan besar dari Chelsea dan Liverpool.

Namun, hanya beberapa hari sebelum pergantian tahun, ada perasaan antiklimaks yang memuncak, karena tampaknya City akan berlari sendirian di puncak klasemen.

Kemenangan City 1-0 atas Brentford pada Kamis (30/12) dini hari WIB, menjadikan sang juara bertahan menggenggam sepuluh kemenangan beruntun di Liga Primer, semakin memantapkan posisi mereka untuk bisa meraih gelar keempat dalam lima musim terakhir.

City sekarang unggul delapan poin di pucuk klasemen setelah dua pesaing terdekat mereka, Liverpool dan Chelsea secara mengejutkan tergelincir dalam waktu 24 jam.

Liverpool masih punya tabungan satu pertandingan, namun kekalahan 1-0 mereka dari Leicester City plus hasil imbang mengecewakan Chelsea 1-1 di kandang sendiri lawan Brighton and Hove Albion di pekan yang sama, telah mengubah pertemuan kedua tim pada Minggu (2/1) esok menjadi laga hidup atau mati bagi anak asuh Thomas Tuchel dan Jurgen Klopp.

Siapa pun yang kalah di Stamford Bridge kemungkinan besar akan tersisih dari persaingan. Pep Guardiola bisa saja tidak sependapat, begitu juga dengan para pemainnya, karena masih ada 18 pertandingan tersisa musim ini bagi City termasuk menjamu Chelsea dan Liverpool.

"Terima kasih atas kata-kata manisnya karena kami menang, tapi saya tidak akan memercayai Anda jika Anda mengatakan itu [perburuan gelar] sudah selesai," ujar Guardiola usai mengalahkan Brentford.

"Chelsea dan Liverpool lebih dari luar biasa. Salah satunya adalah juara Eropa dan Liverpool telah menjadi rival utama kami dalam beberapa tahun terakhir."

"Masih ada 54 poin untuk dikejar dan setiap pertandingan, kami hanya memikirkan pertandingan berikutnya yang kami miliki."

"Sayangnya, kami harus kembali ke London pada hari Sabtu [untuk menghadapi Arsenal] dan bermain pada pukul 12:30, jadi mari pergi ke sana dengan niat baik."

Keraguan itu ada, wajar, karena dalam dua pertandingan terakhir City menunjukkan sisi rapuh di pertahanan mereka, meski pun mereka masih mampu memenangkan permainan.

Pada akhir pekan kemarin, mereka entah bagaimana kebobolan tiga kali dalam 10 menit di kandang oleh Leicester sebelum akhirnya menyegel kemenangan 6-3.

Dan melawan Brentford, yang mengalami krisis akibat badai cedera dan Covid-19, bisa menyebabkan lebih banyak masalah bagi City.

Tetapi masalahnya, baik Liverpool mau pun Chelsea tidak mampu menandingi konsistensi luar biasa yang ditunjukkan City, sehingga membuat mereka menjadi yang terdepat dan kandidat juara yang menakutkan.

Brentford menunjukkan semangat dan energi yang dibutuhkan untuk menyulitkan City dan itu membuat The Cityzens sadar bahwa kemenangan adalah hal yang utama sehingga mereka cukup puas dengan keunggulan tipis.

Tapi yang pasti, City masih tetap bermain seperti biasanya, menguasai bola dan bisa saja menang dengan skor lebih besar andai gol Aymeric Laporte tidak dianulir oleh VAR karena off-side.

Saat Chelsea kesulitan mengembangkan permainan dan gagal meraup hasil sempurna lawan Brighton, Fernandinho, Bernardo Silva dan Kevin De Bruyne mendominasi lini tengah lawan Brentford dengan 76 persen penguasaan bola.

Memang, City tidak terlalu banyak menciptakan peluang bersih setelah adanya penyelesaian apik Phil Foden di pertengahan babak pertama, selain ada satu golnya yang dianulir dan juga ada kans De Bruyne yang membentur mistar.

Hanya saja, satu gol terbukti menjadi hal yang lebih dari cukup bagi tim yang baru kebobolan 12 kali sepanjang musim ini.

Brentford memang melawan dengan sengit, terutama dalam 15 menit pertama yang hampir saja bisa ditandai dengan gol ketika tendangan voli Yoane Wissa melewati Ederson sebelum disapu oleh Joao Cancelo tepat di garis gawang.

Namun, kurang dari tiga menit kemudian, City unggul dan ketajaman mereka di muka gawang itulah yang membedakan mereka dari para pesaing gelar juara.

Gol kemenangan mereka datang dari skema sederhana, mulai dari Cancelo yang menarik bola kembali ke De Bruyne, sebelum sang gelandnag melepaskan umpan silang yang secara klinis dieksekusi oleh Foden dari jarak dekat.

Mudah untuk memprediksi apa yang akan terjadi tetapi hampir mustahil untuk dihentikan. Dan sekarang ada perasaan serupa yang tak terhindarkan tentang perburuan trofi Liga Primer.

Saat Liverpool dan Chelsea masing-masing mendominasi permainan tapi gagal meraih kemenangan atas Leicester dan Brighton, Guardiola mampu mempertahankan konsistensi City yang tak ubahnya seperti mesin yang dirancang untuk menang.

Sekarang tergantung pada Liverpool dan Chelsea, yang akan saling berhadapan pada akhir pekan ini, untuk mengubah nasib mereka sendiri. Jika kembali terpeleset dan City terus mempertahankan tren positif mereka, bukan tidak mungkin pasukan Guardiola sekali lagi akan merebut titel juara dan semakin menguatkan anggapan bahwa Liga Primer kini tak ubahnya sebagai liga petani.

No comments:

Post a Comment